Metode Pengobatan Kanker Kelenjar Air Liur

Anda Saat Ini Sedang Menderita Penyakit Kanker Kelenjar Air Liur? Ingin Segera Sembuh Dari Penyakit Tersebut? Ikuti Metode Pengobatan Kanker Kelenjar Air Liur Paling Efektif!


Sekilas Mengenai | Penyakit Kanker Kelenjar Air Liur

Kelenjar air liur adalah tiga buah kelenjar yang terdapat dalam mulut yang berfunsgi untuk membantuk ar liur sebagai cairan yang membantu pencernaan pada mulut dan kerongkongan. Kelenjar air liur yang utama terdiri dari kelenjar parotis (lokasi sis wajah), kelenjar di bawah rahang, dan kelenjar sublingual. Air liur mengandung enzim yang memulai proses pencernaan kimiawi makanan dan juga mengandung antibodi dan zat kimia lain yang melindungi mulut dan kerongkongan dari infeksi.

Penyebab Kanker Kelenjar Air Liur

Kanker kelenjar air liur terjadi karena adanya perubahan DNA pada sel kelenjar air liur. Perubahan DNA pada sel ini sebut dengan mutasi DNA. Kanker kelenjar air liur bukan merupakan penyakit keturunan. Mutasi DNA yang menyebabkan kanker kelenjar air liur biasanya didapat setelah lahir. Pada beberapa kasus, kanker kelenjar air liur memiliki penyebab eksternal yang spesifik misalnya, paparan radiasi dari luar atau paparan senyawa kimia.

Gejala Kanker Kelenjar Air Liur

Beberapa gejala kanker kelenjar air liur yang dapat dirasakan oleh penderita diantaranya:

  • Benjolan atau pembengkakan yang terjadi pada mulut, pipi, rahang atau leher
  • Nyeri pada bagian mulut, pipi, rahang atau leher yang terjadi terus-menerus
  • Terjadi perbedaan ukuran pipi atau rahang antara bagian kiri dan kanan
  • Mati rasa atau kaku pada beberapa otot wajah
  • Mengalami masalah pada saat membuka mulut lebar-lebar
  • Susah untuk menelam makanan dan minuman

Metode Pengobatan Kanker Kelenjar Air Liur Paling Efektif!

  • Pembedahan – Metode ini yang paling efektif untuk mengobati kanker kelenjar air liur, terutama pada kanker kelenjar parotis karena kebanyakan kanker kelenjar air liur terjadi pada kelenjar parotis. Pembedahan untuk mengangkat kelenjar parotis disebut dengan parotidektomi.

Apabila kanker sudah mneyebar ke kelenjar getah bening lokal, diperlukan pengangkatan kelenjar getah bening tersebut untuk mencegah penyebaran kanker. Metode pengangkatan kelenjar getah bening disebut dengan limfadenektomi atau diseksi leher.

Efek samping dari pembedahan umumnya merupakan kerusakan jaringan saraf pasca pembedahan. Pasien yang diberikan pengobatan kanker melalui pembedahan dapat kehilangan kontrol pada wajah.

  • Radioterapi – Radioterapi menggunakan sinat berenergi tinggi untuk mematikan sel kanker dan memperlambat pertumbuhannya. Pada pengobatan kanker kelenjar air liur digunakan radioterapi sinar eksternal. Sumber sinar berenergi tinggi untuk radiasi bisa berasal dari sinar-X ataupun sinat neutron radioaktif.

Sinar-X adalah jenis sinar yang paling banyak digunakan untuk radioterapi, sementara sinar neutron adalah terobosan baru dalam pengobatan kanker. Sinar neutron diduga lebih efektif dalam mengatasi kanker, namun menimbulkan efek samping yang lebih banyak dibanding radioterapi menggunakan sinar-X.

Efek samping dari radioterapi yang paling banyak terjadi yaitu berkurangnya produksi air liur dengan begitu mulut menjadi kering. Efek samping lainnya berupa : mual, muntah, mulut dan tenggorokan kering, sulit menelan, kurangnya kepekaan lidah, meningkatkan masalah pada gigi.

  • Kemoterapi – Terapi menggunakan obat-obatan antikanker yang diberikan melalui intravena atau oral. Kemoterapi tidak sering digunakan dalam pengobatan kanker kelenjar air liur, kecuali pada pasien yang sudah menderita kanker stadium IV (metastatis).

Kemoterapi biasanya digunakan bersamaan dengan radioterapi agar pengobatan radioterapi pada kanker kelenjar air liur lebih efektif. Dokter akan memberikan kemoterapi pada pasien selama 3-4 minggu bersama dengan radioterapi. Dan seperti yang kita ketahui, pengobatan kemoterapi seringkali menimbulkan berbagai efek samping.

Efek samping dari kemoterapi dapat berupa: mulut kering, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, meningkatnya risiko terkena infeksi, perdarahan akibat kurangnya trombosit, konstipasi, kelelahan dan diares.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Ketik Aja Ya, Gimana??